Topmetro.co, Deli Serdang I Hujan gerimis yang menyiram tanah Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan, tidak sedikit pun menyurutkan tekad ratusan warga yang mulai berdatangan sejak Minggu (16/8/2026) malam.
Langkah kaki anak-anak, para pemuda, hingga jajaran lansia tampak bergegas menembus kebasahan malam menuju kompleks Masjid Al- Hasaniyah, rela berdesakan dan memadati pelataran, warga bersiap mengikuti prosesi tahunan yang sakral: Malam Renungan Suci menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.

Tepat menjelang detik-detik pergantian hari menuju tanggal 17 Agustus, lampu di sekitar kawasan masjid dipadamkan. Suasana desa yang mulanya riuh seketika hening dan mencekam secara khidmat. Hanya pancaran temaram dari obor-obor elektrik yang terpasang di beberapa sudut yang menjadi penerang utama, memantulkan bayangan syahdu di atas makam-makam itu.
Ziarah Khusyuk di Makam Pejuang
Prosesi diawali dengan adanya kirim doa tepat pukul 20:30 WIB. Jajaran pemerintah daerah mulai dari Camat, Kepala Desa, Kepala Dusun, hingga para tokoh masyarakat berkumpul di Pelataran Masjid Al- Hasaniyah. Usai kirim doa, sekitar pukul 23:30 pimpinan wilayah beserta warga mulai duduk di bangku yang sudah disediakan di area pemakaman di belakang Masjid untuk melakukan pembukaan, tata acara, pembacaan riwayat hidup para pahlawan serta memanjatkan doa dan menaburkan bunga di atas nisan para pahlawan.

Isak tangis haru tak jarang terdengar dari barisan ahli waris yang hadir. Bagi masyarakat Bandar Khalipah, ziarah malam bukan sekadar agenda seremoni tahunan, melainkan bentuk ikatan batin dan penghormatan terdalam kepada mereka yang telah mengorbankan nyawa demi kemerdekaan bangsa.
Warisan Sejarah Pertempuran Medan Area
Area TPU di balik Masjid Al- Hasaniyah memiliki nilai sejarah yang amat tebal bagi masyarakat lokal. Di tanah ini terbaring dua pahlawan besar Pertempuran Medan Area, yaitu Mansurdin Nasution dan Lukman Lubis. “Para pejuang ini hijrah dari Sumatera Barat dan bergabung dengan batalion di wilayah ini untuk memukul mundur penceroboh pada masa agresi militer.
Mereka bertempur gigih hingga akhirnya gugur di tanah ini,” tutur Irfan`, Kepala Tata Usaha & Umum di Desa Bandar Khalifah.
Irfan juga menambahkan bahwa sebenarnya masih banyak pahlawan tanpa nama yang gugur di sepanjang bantaran sungai tak jauh dari lokasi pemakaman. Dahulu, warga kerap menggelar ritual larung bunga ke aliran sungai untuk mengenang mereka.
Namun karena akses medan tepi sungai yang kian curam dan sulit dilalui saat malam hari, fokus penghormatan kini dipusatkan di kompleks pemakaman masjid.
Menjaga Api Ingatan Generasi Muda
Melalui tradisi renungan suci ini, pemerintah desa dan para orang tua berharap generasi muda di Bandar Khalipah tidak kehilangan akar sejarahnya. Di tengah arus modernisasi, mengenang jasa para pendiri desa dan pahlawan kemerdekaan menjadi benteng moral yang amat krusial.

Ainur (Ahli waris dari Usman Siddiq), menjelaskan tanggapan nya mengenai adanya malam suci, yaitu: “Alhamdulillah, bisa dikenang setiap tahunnya dan teringat masa yang lalu. Bagi kmai selaku ahli waris, setiap sejarah itu terputar, ada rasa haru yang tak membendung. Menjadikan momen in sebagai pengingat tahunan adalah cara kami merawat rasa syukur dan menjaga amanah yang telah dititpkan.”
Muliadi (Kepala dusun XII desa Bandar Khalipah), menjelaskan tanggapannya mengenai adanya malam suci, yaitu: “Karena disini ada makam pahlawan, jadi diadakanlah malam renungan suci. Dulu ada tiga tapi satu sudah dipindahkan ke makam pahlawan satu lagi dan duanya ada di makam pahlawan (masjid Al Hasaniyah). Ia mengatakan, bagus untuk diadakan untuk mengenang jasa para pahlawan kita.”
Saat prosesi tabur bunga berakhir dan doa penutup dilantunkan, warga perlahan membubarkan diri dengan membawa kesan mendalam. Nyala obor yang perlahan padam malam itu seolah menegaskan pesan: meski para pahlawan telah lama mendahului, api semangat perjuangan mereka akan terus menyala di hati warga Desa Bandar Khalipah.(TM/REL)














